Selamat datang di Toraja Cyber News (TCN). Membangun Citra Toraja di Dunia Maya merupakan konsern kami dengan menyajikan informasi-informasi aktual yang membangun. Warga TCN, ini adalah website kita bersama. Kurresumanga'.

Kamis, 10 November 2011

Harumkan Indonesia lewat Tarian Empat Etnis

TCN -- Penilaian jika mahasiswa di Makassar hanya doyan tawuran,tidak sepenuhnya benar.Di antara sebagian kecil kaum terdidik kampus yang kerap berbuat anarkis,masih banyak mahasiswa yang memiliki potensi dan berhasil mengukir prestasi.


Tidak hanya di tingkat lokal dan nasional,bahkan internasional. Seperti yang ditorehkan mahasiswa Universitas Kristen Indonesia (UKI) Paulus. Paduan suara mahasiswa (PSM) perguruan tinggi yang terletak di Kecamatan Biringkanaya ini berhasil mengharumkan nama Indonesia dan Sulsel,khususnya di tingkat internasional.

PSM UKI Paulus keluar sebagai yang terbaik dalam kejuaraan paduan suara internasional Praga Cantat, 25th Anniversary International Choir Competition and Festival di Praha, Ceko.Paduan suara yang beranggotakan 23 orang ini berhasil meraih medali emas pada kategori musik folklore serta medali perak pada kategori mixed choir.

Untuk memikat dewan juri pada kejuaraan yang digelar 27 Oktober hingga 30 Oktober 2011,PSM UKIP Makassar menampilkan tiga lagu,yakni Pa teinde,Basseta Toraya,dan Marencong- rencong yang merupakan lagu Bugis-Makassar.Lagu ini mewakili empat etnis masyarakatyang menjadi satu kesatuan di Sulsel.Lagu berirama ceria ini berhasil memikat perhatian dewan juri serta ratusan penonton yang menyaksikan kejuaraan tersebut.

Menariknya lagi,lagu yang dibawakan disertai dengan tarian dari 23 mahasiswa ini. Tarian khas Sulsel dari etnis, Bugis Makassar,Toraja,dan Mandar dipertontonkan dan dikolaborasikan dengan tiga lagu yang ditampilkan. “Kami meraih dua medali sekaligus, yakni medali emas pada kategori musik folklore serta medali perak pada kategori mixed choir,”ungkap Pembina Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) UKI Paulus Anton Paranoan, kemarin.

Atas medali internasional yang diraihnya,mereka pun diundang Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo untuk beraudiensi dan mempertontonkan perpaduan tarian dan paduan suara ke-23 mahasiswa tersebut,kemarin. Anton menyebutkan,keberangkatannya ke Kota Praha, Ceko,merupakan undangan Duta Besar Indonesia di Ceko. PSM UKI Paulusu diundang atas prestasi sebelumnya pada kejuaraan paduan suara di Tomohon International,dengan meraih emas dan perak.

“Persiapan kami sebelum berangkat ke Ceko sudah mantap. Anak-anak memang melakukan latihan rutin di kampus. Saat itu kami persiapkan enam bulan latihan dan akhirnya bisa membawa pulang dua medali,” ujarnya saat ditemui di Rujab Gubernur. Praga Cantat 2011 adalah festival paduan suara internasional yang telah menjadi kegiatan paduan suara bergengsi di Praha,Ceko.

Festival tersebut mencatat 705 kelompok paduan suara yang telah berpartisipasi dari 25 negara dengan jumlah penyanyi yang hadir sebanyak 28.000 selama 24 festival sebelumnya. Mantan Pembantu Rektor III UKI Paulus ini menambahkan, salah satu keistimewaan paduan suara yang dipimpinnya juara,lantaran kekompakannya dalam membawakan lagu daerah dan tarian khas Bugis-Makassar.

“Itu yang membuat dewan juri di sana terpukau.Apalagi, baju khas daerah Sulsel yang berwarna-warni sehingga menambah poin penilaian kami,”paparnya. Menanggapi prestasi mahasiswa tersebut,Gubernur Sulsel Syahrul mengatakan,kalangan kampus harus didorong untuk terus berkreasi dan berprestasi.

Potensi-potensi yang ada harus dimaksimalkan agar mahasiswa bisa menorehkan prestasi, sekaligus bisa menghapus stigma masyarakat tentang mahasiswa Makassar yang kerap tawuran.● WAHYUDI Makassar

Sumber: Sindo

Minggu, 23 Oktober 2011

Terpesona Kete Kesu, Kuburan Purbakala Masyarakat Toraja

Bloger Sulastama Raharja berkunjung ke Toraja. Ia terpikat situs pekuburan Kete' Kesu'. Melalui blognya, ia menulis pengalamannya berkunjung ke situs ini. Berikut tulisan lengkapnya. 

Kete Kesu terletak di kampung Bonoran, Kelurahan Tikunna Malenong, Kecamatan Sanggalangi, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Indonesia. Berada sekitar empat kilometer sebelah selatan kota Rantepao atau 14 kilometer sebelah utara Makale. Kete Kesu adalah sebuah area di mana beberapa tongkonan berdiri berjajar, dilengkapi dengan lumbung padi (alang sura), area upacara pemakaman (rante), dan tempat pertemuan adat.
Tongkonan-tongkonan itu lengkap dengan berbagai ornamen seperti ukiran khas Toraja dan tanduk kerbau yang disusun di muka. Semakin banyak dan semakin tinggi tanduk yang tersusun menandakan semakin tinggi derajat sosial penghuninya. Di dalam kompleks Kete Kesu ada juga museum yang menyimpan berbagai artefak kuno.
Tongkonan tersebut didirikan oleh Puang Ri Kesu dan diwariskan secara turun temurun kepada kekerabatannya. Turunan Puang Ri Kesu masih hidup sekarang. Kompleks itu menjadi cagar budaya, tetap digunakan sebagai ajang kegiatan adat tapi tidak ditinggali. Kete Kesu adalah potret kebudayaan megalitik di Tana Toraja yang paling lengkap.


Sementara di sekitar kompleks Kete Kesu ada liang (pekuburan tradisional) berupa lubang-lubang pada batu cadas. Ada pula panorama persawahan yang indah menghampar. Dengan itu semua Kete Kesu adalah sebuah poros di mana masyarakat hidup, menentukan pranata, menjalani kehidupan, dan memenuhi berbagai kebutuhan.

Berbagai souvenir dijajakan penduduk di sekitar kompleks tongkonan itu. Ada nampan, tatakan gelas, gelang, kalung, patung, hiasan dinding, dan lukisan. Semuanya bermotif ukiran Toraja karya tangan mereka. Tatakan gelas dijual Rp 1.000, nampan Rp 20.000 Rp 25.000, sedangkan lukisan yang diukir bisa jutaan rupiah.

Foto-foto lebih lengkap bisa dilihat di blog: http://sulastama.wordpress.com/2011/10/23/pesona-kete-kesu-kuburan-purbakala-masyarakat-toraja/

Rabu, 12 Oktober 2011

Berbusana Toraja, Indonesia Best Costume Manhunt International 2011

TCN-- Busana ala Toraja, Sulawesi Selatan, yang dikenakan duta Indonesia, Johanica Yanuar, dalam kontes pria berbakat sejagat "Manhunt Internasional 2011" di Korea Selatan sukses menyabet predikat The Best National Costume. "Ini prestasi yang membanggakan karena penghargaan national costume termasuk yang paling bergengsi dalam ajang tingkat dunia ini," kata Ketua Tim Indonesia (National Director) yang juga Brand Manager L-Men, Christian Widi Nugraha, di Seoul, Senin. Wakil Indonesia, Johanica Yanuar (26), yang berpostur tinggi 182 cm itu mengenakan busana rancangan Dynan Fariz - Jember Fashion Carnaval yang bertemakan Mystical Toraja dalam sesi Traditional Costume Parade dalam ajang Manhunt International 2011 yang malam puncak finalnya digelar di Millenium Hotel, Gangnam, Seoul, pada Senin (10/10) malam. Busana tersebut merupakan modifikasi pakaian adat Toraja seppa tallung buku yang dilengkapi dengan sayap dan tanduk mengesankan kebesaran dan keagungan salah satu kebudayaan Indonesia. Christian Widi Nugraha yang akrab disapa Widi itu menambahkan, pengerjaan kostum tersebut memakan waktu berminggu-minggu. "Sampai acara akan dimulai, kostum itu belum juga selesai akhirnya dikerjakan marathon selama sepekan, dan siap digunakan pada sore hari sebelum tim diberangkatkan ke Korsel," katanya. Bahkan, Widi menambahkan, fitting pakaian dan pemotretan baru dilakukan pukul 11.00 malam sesaat sebelum tim berangkat ke Korsel. "Perjuangan belum berhenti karena di bandara sempat dipersoalkan lantaran kelebihan muatan sehingga dikenai biaya ’overweight’ hingga 700 dolar AS," katanya. Salah satu juri Manhunt Internasional 2011 yang juga perancang mode ternama, Ricky Abad, mengatakan, national costume asal Indonesia layak menjadi juara karena detail, unik, dan megah. "Desain kostum Indonesia sangat unik, detail, dan membuat pemakainya terlihat gagah. Inspirasi itu diperkaya dengan tanduk dan ekor seperti binatang," katanya. Pada kesempatan itu, duta China Chen JianFeng, sukses menjadi juara pertama Manhunt International 2011. First runner up diraih Dominican Republic, 2nd runner up ditempati oleh Belgia, 3th runner up Vietnam, 4th runner up dari Slovak Republic. Duta Indonesia sendiri juga sukses menyabet Top 15 alias 15 besar dalam ajang internasional itu.

Selasa, 11 Oktober 2011

Ega Indriani Diarak Keliling Kota Rantepao

TCN - Ega Indiriani Madao, 12, siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 56 Rantepao yang meraih Juara 1 Lomba Karya Cipta Seni Pelajar SD dan SMP Tingkat Nasional, kategori lomba cipta lagu pada 17 September lalu, disambut bak pahlawan setibanya di Kota Rantepao kemarin.


Ega disambut ratusan siswa SD, SMP dan SMA/SMK se- Kota Rantepao. Siswa kelas VI SD yang didampingi kedua orangtuanya juga diarak keliling Kota Rantepao.Sepanjang jalan, putri kelima pasangan suami-istri, Lewi Tambing dan Erni Sandra Madao itu melambaikan tangan dan menunjukkan piala dari Presiden Susilo BambangYudhoyono.

Setelah diarak sepanjang Kota Rantepao, Ega disambut Bupati Toraja Utara, Frederik Batti Sorring dan pejabat eselon II dan III lingkup Pemkab Toraja Utara di halaman kantor Bupati Toraja Utara. “Ega bukan hanya kebanggaan keluarga, juga kebanggaan Kabupaten Toraja Utara, Provinsi Sulawesi Selatan dan masyarakat Indonesia. Bupati Toraja Utara saja belum pernah dapat piala dan penghargaan dari presiden,” ujar Bupati Frederik Batti Sorring.

Sorring berjanji,akan memberikan perhatian khusus bagi Ega dalam bentuk beasiswa. “Yang berprestasi pantas mendapatkan penghargaan dan perhatian dari pemkab Toraja Utara,”katanya. Ibu Ega Indriani Madao,Erni Sandra Madao ditemui SINDO mengatakan prestasiyangdiraih Ega Indriani merupakan kebanggaan tersendiri bagi keluarga.

Prestasi yang diukir Ega juga tidak terlepas dari bimbingan guru sekolahnya. Bakat Ega di bidang seni sudah terlihat sejak duduk di kelas IV SD.Sejak saat itu, Ega diikutkan kursus vocal danmengikutiberbagaiperlombaan menyanyi di gereja atau ajang lainnya. ● joni lembang

Sumber: Sindo

Senin, 10 Oktober 2011

Busana Toraja Raih ‘The Best National Costume’ Manhunt International 2011

TCN -- Busana ala Toraja, Sulawesi Selatan, yang dikenakan duta Indonesia, Johanica Yanuar, dalam kontes pria berbakat sejagat, Manhunt International 2011 di Korea Selatan sukses menyabet predikat The Best National Costume. “Ini prestasi yang membanggakan karena penghargaan national costume termasuk yang paling bergengsi dalam ajang tingkat dunia ini,” kata Ketua Tim Indonesia (National Director) yang juga Brand Manager L-Men, Christian Widi Nugraha, di Seoul, Korsel, Senin (10/10). Wakil Indonesia, Johanica Yanuar (26), yang berpostur tinggi 182 cm itu mengenakan busana rancangan Dynan Fariz-Jember Fashion Carnaval yang bertemakan Mystical Toraja dalam sesi Traditional Costume Parade dalam ajang Manhunt International 2011 yang malam puncak finalnya digelar di Millenium Hotel, Gangnam, Seoul, pada Senin (10/10) malam. Busana tersebut merupakan modifikasi pakaian adat Toraja, Seppa Tallung Buku yang dilengkapi dengan sayap dan tanduk, mengesankan kebesaran dan keagungan salah satu kebudayaan Indonesia. Christian Widi Nugraha menambahkan, pengerjaan kostum tersebut memakan waktu berminggu-minggu. “Sampai acara akan dimulai, kostum itu belum juga selesai akhirnya dikerjakan marathon selama sepekan, dan siap digunakan pada sore hari sebelum tim diberangkatkan ke Korsel,” katanya. Bahkan, Widi menambahkan, fitting pakaian dan pemotretan baru dilakukan pukul 11.00 malam sesaat sebelum tim berangkat ke Korsel. “Perjuangan belum berhenti karena di bandara sempat dipersoalkan lantaran kelebihan muatan sehingga dikenai biaya ‘overweight’ hingga 700 dolar AS,” katanya. Salah satu juri Manhunt Internasional 2011 yang juga perancang mode ternama, Ricky Abad, mengatakan, national costume asal Indonesia layak menjadi juara karena detail, unik, dan megah. “Desain kostum Indonesia sangat unik, detail, dan membuat pemakainya terlihat gagah. Inspirasi itu diperkaya dengan tanduk dan ekor seperti binatang,” katanya. Pada kesempatan itu, duta China Chen JianFeng, sukses menjadi juara pertama Manhunt International 2011. First runner up diraih Dominican Republic, 2nd runner up ditempati oleh Belgia, 3th runner up Vietnam, 4th runner up dari Slovak Republic. Duta Indonesia sendiri juga sukses menyabet Top 15 alias 15 besar dalam ajang internasional itu.(Ant/BEY) Sumber: MetroTV

Rabu, 05 Oktober 2011

Menikmati Cita Rasa Kopi Toraja di Coffee Toffee

TCN– Banyak cara orang menghilangkan rasa penat karena terbelit rutinitas pekerjaan. Terkadang, sebutir cokelat atau semangkuk es krim sudah cukup menjadi obat penawar. Atau segelas ice coffe late juga dapat membuat Anda releks. Coba saja datang ke Coffe Toffee Alam Sutera Serpong. Di sini, Anda dapat menikmati beragam jenis kopi yang diracik oleh tangan-tangan barista andal untuk menghasilkan rasa yang lembut dan khas. Sekilas memang aroma kopi yang dihasilkan seperti umumnya kopi, tetapi setelah Anda mencicipinya, dijamin pasti datang kembali. Sebut saja ice coffe late, salah satu menu andalan kedai ini. Untuk menghasilkan segelas ice coffe late yang nikmat, sang barista menggunakan perpaduan biji kopi asli tanah Toraja Kalosi dan Java Mocha. Teksturnya lembut, namun tak menghjilangkan aroma kopinya yang khas dan sedikit mencolok. Nah, rasanya belum lengkap jika tak ditemani seporsi makanan ringan nan hangat. Kami referensikan Anda untuk mencicipi seporsi Samosa Beef yakni, semacam vanada yang dilapisi terigu goreng berisi daging sapi giling dan rempah-rempah. Dari sisi interior, kedai kopi ini cukup ekslusif dan pas untuk Anda yang ingin menikmati kesendirian atau bersama orang terdekat sekedar surfing dunia maya. Karena, di sini dilengkapi wifi yang memudahkan Anda berhubungan dengan dunia luar. [http://wartatangerang.com]

Lovely Desember Jangan Hanya Slogan

TCN-- Menyikapi Lovely Desember yang beberapa tahun belakangan ini diprogramkan gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Lippo, di Toraja ini, Drs. Benyamin Patondok, salah seorang putra Toraja yang sukses diperantauan, yang acara keluarganya di Tondon, kab. Toraja, mengatakan bahwa program dan ide Lovely Desember itu sangat bagus dan perlu ditindak-lanjuti, jangan hanya slogan saja. Yang mana, salah satu tujuan Lovely Desember adalah untuk menarik para wisatawan untuk berkunjung ke daerah ini, serta agar para perantau Toraja bisa datang untuk berkumpul dengan sanak keluarganya yang ada di Toraja. Lebih lanjut dikatakannya, tanpa Lovely Desember masyarakat Toraja yang diperantauan akan datang juga, oleh karena itu pemerintah harus mampu membuat konsep-konsep yang jitu dan cemerlang guna bisa menarik wisatawan domestic dan manca negara, sehingga mereka terpanggil berkunjung ke Toraja demi kemajuan pariwisata di daerah kita ini. Ia juga mengatakan, bahwa langkah kongkrit harus diperbuat oleh Pemda setempat. Seperti membenahi tempat-tempat wisata yang ada, terutama infrastrukturnya harus diperbaiki. Karena para wisatawan tidak akan mau berkunjung ketempat wisata kalau infrastrukturnya tidak baik. Begitu pula dengan service yang harus ramah, bagi semua yang terkait dengan pariwisata misalnya, perhotelan, restaurant, dan pelayanan di objek-objek wisata yang ada. Kata Benyamin, semua itu harus dilakukan demi untuk mengembangkan daerah ini terutama dari sektor pariwisatanya. Ketika dimintai pendapatnya tentang munculnya wacana yang dikemukan pada acara launching lovely December yang lalu, dalam acara konfrensi pers di hotel Sahid Mengkendek ( 24/9 ) tentang nama lovely Desember diubah menjadi nama Lovely Toraja, Benyamin Patondok menyatakan, nama kegiatan tersebut, tidak masalah, yang perlu kata dia, ada tindakan kongritnya yang bermanfaat buat Toraja sebagai daerah tujuan wisata. “Tapi bagus juga jika disebut Lovely Desember for Toraja ,'' usul Bento mengenai penamaan kegitan Lovely December. Sumber: Palopo Pos
Tags: Tana Toraja, Tator, Torut, Toraja Utara, Pariwisata Toraja, Toraja Tourism, Toraja Culture, Budaya Toraja.
 
TORAJA CYBER NEWS Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Pius Get Free Games