Selamat datang di Toraja Cyber News (TCN). Membangun Citra Toraja di Dunia Maya merupakan konsern kami dengan menyajikan informasi-informasi aktual yang membangun. Warga TCN, ini adalah website kita bersama. Kurresumanga'.

Minggu, 30 Mei 2010

Menikmati Keunikan Budaya Tana Toraja


TCN -- Tana Toraja terkenal dengan bangunan rumah dengan atapnya yang khas serta upacara pemakaman jenazahnya yang unik.

Wilayah kabupaten yang terletak sekitar 350 km sebelah Utara Makassar ini terkenal dengan kekayaan budayanya yang unik. Salah satunya rumah adat Tongkonan yang memiliki kekhasan. Meski atapnya terbuat dari daun nipah atau kelapa, rumah ini mampu bertahan sampai 50 tahun. Tongkonan juga memiliki strata sesuai derajat kebangsawanan masyarakat seperti strata emas, perunggu, besi, dan kuningan.

Saking melekatnya imej Tanah Toraja dengan bangunan rumah adatnya ini, pengusaha pariwisata Jepang membangunnya di sana dalam upaya menggaet turis Jepang ke daerah ini. Kehadiran Tongkonan selalu membuat kagum masyarakat negeri tersebut karena bentuknya yang unik. Perbedaannya dengan yang ada di Tanah Toraja hanya terletak di atapnya yang menggunakan daun sagu (rumbia).

Selain rumah adat, wilayah yang terletak di Sulawesi Selatan ini juga terkenal dengan upacara adat rambu solo (pemakaman) yang unik dan sudah kesohor. Sebutlah kuburan bayi di atas pohon tarra di Kampung Kambira, Kecamatan Sangalla, sekitar 20 kilometer dari Rantepao, yang disiapkan bagi jenazah bayi berusia 0 - 7 tahun.

Meski mengubur bayi di pohon tarra itu sudah tidak dilaksanakan lagi sejak puluhan tahun terakhir, tetapi pohon tempat “mengubur” mayat bayi itu masih tetap tegak dan banyak dikunjungi wisatawan. Di atas pohon tarra yang lingkaran batangnya sekitar 3,5 meter dan buahnya mirip buah sukun --biasa dijadikan sayur oleh penduduk setempat-- itu tersimpan puluhan jenazah bayi.

Jenazah dimasukkan ke batang pohon dengan terlebih dulu melubangi pohon itu. Mayat bayi diletakkan di dalamnya kemudian ditutupi dengan serat pohon kelapa berwarna hitam. Setelah puluhan tahun, jenazah bayi itu akan menyatu dengan pohon tersebut. Ini suatu daya tarik bagi para pelancong dan masyarakat Tanah Toraja tetap menganggap tempat tersebut suci seperti anak yang baru lahir.

Penempatan jenazah bayi di pohon ini juga disesuaikan dengan strata sosial masyarakat. Makin tinggi derajat sosial keluarga itu, maka makin tinggi pula tempat penguburan bayi di batang pohon tersebut. Bayi yang meninggal dunia itu diletakkan sesuai arah tempat tinggal keluarga yang berduka. Kalau rumahnya ada di bagian barat pohon, maka jenazahnya diletakkan di sebelah barat.

Untuk menuju Tanah Toraja yang mengagumkan ini terdapat jalur penerbangan domestik Makassar - Tanah Toraja yang dilayani sekali seminggu dan memakai pesawat kecil berpenumpang delapan orang. Lama perjalanan dari Bandara Hasanuddin sekitar 45 menit. Jika lewat darat, perjalanannya cukup melelahkan dan butuh waktu selama tujuh jam.

Even yang tak kalah menarik upacara pemakaman jenazah (rambu solo’) dan rambu tuka (pesta syukuran) yang merupakan kalender tetap tiap tahun. Selain itu, para pengunjung bisa melihat dari dekat objek wisata budaya menarik lainnya seperti penyimpanan jenazah di penampungan mayat berbentuk “kontainer” ukuran raksasa dengan lebar 3 meter dan tinggi 10 meter serta tongkonan yang sudah berusia 600 tahun di Londa, Rantepao. ins
Sumber:http://www.surabayapost.co.id
Tags: Tana Toraja, Tator, Torut, Toraja Utara, Pariwisata Toraja, Toraja Tourism, Toraja Culture, Budaya Toraja.
 
TORAJA CYBER NEWS Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Pius Get Free Games